Buruhpun mati sia-sia! Mengapa buruh mati sia-sia? - Federasi Serikat Pekerja Singaperbangsa (FSPS)

Buruhpun mati sia-sia! Mengapa buruh mati sia-sia?

Jeritan buruh
Ketika paket UU ketenagakerjaan digulirkan oleh eksekutif dan Legislatif itu terjadi perang kepentingan, sehingga untuk membuat agak adil (kata mereka), maka di bagilah keuntungan sebagai berikut :
1. UU 21/2000, kaum buruh di untungkan dengan dipermudahkannya membentuk serikat pekerja serta adanya jaminan sanksi hukum pidana bagi siapapun yang menghalangi terbentuknya serikat pekerja atau menjalankan kegiatan serikat pekerja. Maka, kaum buruh menang telak dan pengusaha gigit jari.
2. Pengusaha tentu marah dengan adanya UU 21 tahun 2000, maka eksekutif dan legislatif membuat UUK 13/2003 agar pengusaha tidak marah dengan asas kebebasan berkontrak, pengusaha diuntungkan dengan hilangnya cuti haid dan dibolehkannya PKWT, OS dan pemagangan. Maka, kaum buruh kalah telak dan pengusha bersorak!
3. Ternyata tidak cukup hanya disitu, pengusaha masih meminta keuntungan lainnya dan pemerintah dilarang turut campur dalam penegakkan hak kaum buruh, maka lahirlah UU No. 2/2004. Semua tanggung jawab pemerintah menjadi lepas, kaum buruh dipersilahkan mencari keadilannya di Pengadilan, dan pengusahapun manggut-manggut senang walaupun harus mengeluarkan biaya dan waktu, namun keuntungan ada di depan mata. Buruhpun mati sia-sia!
Mengapa buruh mati sia-sia? Ya, buruh mati setelah tidak di bayar, tidak makan dan tidak bekerja, berakhir dengan putusan di PHK atau putusan hakim yang tidak bisa di eksekusi.
Masihkah anda menolak revisi atau menyetujui revisi UUK 13/2003 dan UU No. 2/2004?
Silahkan berfikir sendiri dengan argumentasi tanpa emosi.(AK) 

Sources: Adipati Karawang

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.