Takut Berunding Atau Berunding Karena Takut - Federasi Serikat Pekerja Singaperbangsa (FSPS)

Takut Berunding Atau Berunding Karena Takut

Takut Berunding Atau Berunding Karena Takut
Promosi, Mutasi dan Demosi. Menurut UUK 13/2003 semua itu kewenangan perusahaan dan memang sudah sewajarnya begitu apabila perusahaan menerapkan betul dan memahami betul makna dibuatnya UU tentang Ketenagakerjaan. Namun, harapan dibuatkannya UU akan berbeda dengan harapan seseorang ketika menjadi pengusaha atau sedang berusaha.
Disadari atau tanpa disadari kita sendiri ketika sedang berusaha tentunya selalu melabrak norma yang ada asal tujuan bisa tercapai dan ini sifat keegoisan manusia merasa paling kuat dan paling menentukan.
UU Ketenagakerjaannya itu sifatnya mengatur, jadi selama tidak diatur maka dibebaskan untuk mengaturnya sesuai keinginan kita dengan batasan tidak boleh melanggar perundang-undangan. Demikianpun dengan promosi, demosi dan mutasi.
Ketika dulu saya mengajukan perundingan PKB, saya melihat celah ini yang dilakukan perusahaan dengan diterapkannya melalui PP. Dan hanya dalam perundingan mellaui serikat pekerja saya berfikir dapat meminimalisir kewenangan tersebut.
Ada orang yang bertanya kepada saya saat itu yang mengatakan bahwa itu hak pengusaha dan tidak bisa di rubah. Saya saat itu hanya tersenyum karena belum tau jawaban yang baik seperti apa. Saat itu pengetahuan saya tentang hukum sangat sedikit, lebih banyak nekatnya daripada pengetahuannya. Tetapi nekat dengan disertai keinginan untuk belajar dan melakukan yang terbaik (menurut saya saat itu) adalah yang terbaik daripada hanya sekedar diam dan mengutuk pembuat UU. Dan pada kenyataanya menurut saya sangat berhasil ketika merundingkan kewenangan perusahaan tersebut.
Hal pertama yang dilontarkan pengusaha atau tim perunding perusahaan saat itu békenaan dengan hal tersebut mengatakan bahwa promosi, demosi atau rotasi adalah hak perusahaan dan tidak boleh serikat pekerja turut campur.
Saat itu (ingat ya.. jawaban ini saya lontarkan pada tahun 2003 dimana saya baru berserikat selama dua tahun, jadi jauh lebih rendah pengetahuannya tentang hukum daripada anda semua saat ini) saya menjawab, "kami tidak akan turut campur soal mutasi, promosi dan rotasi... silahkan itu hak anda, tetapi segala sesuatu yang belum di atur meka sepatutnya dibuat kesepekatan melalui perundingan. Itulah makna dibuatnya perjanjian kerja bersama dimana dalam pembukaannya yang telah kita sepakati agar terjalin hubungan industrial yang harmonis berdasarkan partnership equality. Bagaimana pekerja mampu meningkatkan prestasi bila promosi menjadi bagian yang rahasia tentang syarat-syaratnya? Bagaimana pekerja bisa mengerti tentang mengapa dimutasi bila pekerjanya tidak faham bahwa dia sedang dimutasi atau mengapa dimutasi dan lain sebagainya. 
Ingat bahwa dalam hubungan induatrial ini kita sebenarnya sedang berjual beli. Pengusaha membeli kemampuan pekerjanya dan pekerja menjual kemampuannya. Ini makna dari hubungan industrial yaitu jual beli. Menjadi kewajiban bagi semua pihak untuk mengetahui syaratnya apabila ingin menjadi juara. 
Promosi, mutasi dan demosi memang menjadi kewenangan pengusaha, tetapi syarat-syarat dari kewenangan tersebut tirak diatur di dalam UU menjadi hak pengusaha. Selama tidak diatur maka menjadi kewajiban pengusaha dan pekerjanya untuk dirundingkan dan disepakati. Maka kita akan meminta syarat-syarat yang berkenaan dengan promosi, rotasi, mutasi dan demosi dirundingkan!"

Itulah argumentasi saya saat berunding PKB yang pertama kali. Dan akhirnya berkenaan dengan syarat-syarat promosi, rotasi, mutasi demosi disepakati dalam perundingan. Syarat apa sajakah itu? Bqnyak sekali diantaranya yaitu syarat pendidikan, syarat waktu, syarat pengalaman, syarat penilaian dan lain sebagainya.
Catatan yang terpenting dan harus diantisipasi bisa saja pekerja dalam waktu yang bersamaan dia di rotasi dan di mutasi serta di demosi secara bersamaan atau bisa saja pwkwrja tersebut dalam waktu bersamaan di promosi tetapi maksud sebenarnya adalah didemosi dengan jalan di promosi.
Demikian sekilas tentang pengalaman saya saat berunding PKB untuk yang pertama kali. Jadi jangan pernah bilang saya belum mempunyai kemampuan untuk berunding sehibgga membiarkan PP atau PKB yang ada sekarang berjalan seperti apa adanya.
Saya selalu menanyakan kepada anda, "anda takut berunding atau anda berunding karena takut?"

Semoga bermanfaat.

Ditulis Oleh:
Di Ambil dari Facebook.com

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.